Jumat, 23 Desember 2011

Bagaimana Aktifitas dalam komunikasi secara personal

Komunikasi bagi manusia sangat penting dilakukan. terlebih dalam sebuah event yang Anda bawakan. Komunikasi menjadi suatu solusi cara untuk  mengekspresikan keinginan dan Ide Anda. Aktifitas komunikasi dengan lingkungan sekitar Anda ada beberapa pola yang perlu dipelajari seperti saya contohkan disini.

Pola aktifitas komunikasi dalam keseharian dapat kita bedakan : 
Aktifitas personal.
1. Perilaku komunikasi yang berdampak mengembangkan
Mewujudkan perilaku ini perlu dicermati oleh Anda sebagai speaker. Anda bisa menanyakan kepada orang-orang disekitar Anda. Apakah komunikasi Anda sudah benar?. Saran dan pendapat dari teman selingkungan Anda akan memberikan koreksi, kontribusi, saran dan pandangan bahkan sampai ide yang tidak disangka untuk perbaikan. Anda juga dapat minta masukan dari orang tentang perilaku yang khas dari Anda lakukan dalam berkomunikasi. Hal ini penting untuk mengembangkan perilaku komunikasi diri. Anda juga patut berterima kasih kepada teman-teman Anda yang telah memberikan sumbangsih sehingga Anda lebih cakap dalam berkomunikasi.

2. Berkomunikasi dengan budaya lain

Anda bisa saja berkomunikasi dengan banyak orang, akan tetapi perlu diketahui bahwa bangsa kita banyak sekali ragam bahasa; suatu kali Anda bertemu dengan orang Sunda misal; "atos" dalam bahasa sunda berarti sudah, sedangkan dalam bahasa jawa atos sama dengan keras. Nah lo..., maka Anda perlu menanyakan latar belakang budaya seseorang ketika berkomunikasi dengan Anda. Salah ucap berarti masalah.. Perbedaan latar belakang budaya dan juga sikap komunikasi yang Anda ketahui ketika orang lain anda ajak berbicara, tentu dapat mengurangi persoalan yang dapat dicegah. Jika Anda tanyakan kepada diri Anda sendiri, bagaimana yah ketika berkomunikasi dari latar belakang budaya yang berbeda?


3. Melihat perbaikan komunikasi
Perjalanan hidup Anda setiap hari tentu bertambah, meski secara umur sebenarnya berkurang. Pengalaman dalam perjalanan hidup menjadi bekal Anda dalam berkomunikasi. Anda dapat mencatat dari hari ke hari, bulan ke bulan dan bahkan mungkin tahun -ke tahun. Apakah komunikasi Anda semakin baik?.. Jika belum belajarlah.. belajar menjadi komunikan yang positif. Ambil langkah pasti dan nilai bagaimana cara komunikasi Anda.. Anda bisa menilai.. apakah anda tegas. lemah lembut, masih takut-takut? Apakah komunikasi Anda juga telah merubah dalam kehidupan Anda..? 

Selamat Belajar..

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DENGAN GASTRITIS



 A. Pengertian;
Gastritis salah satu penyakit yang menyerang saluran pencernaan di dalam lambung.  Gastritis ditandai adanya peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut kronik, difus atau lokal (Soeparman, 1998).  Tanda lain dari gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Mansjoer, 1999).
B. Etiologi
Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai
dengan klasifikasinya sebagai berikut :
  • Gastritis Akut
Penyebabnya adalah obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung).
Bahan kimia misal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid dan digitalis.
  • Gastritis Kronik
    Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui. Gastritis ini merupakan kejadian biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol, dan merokok.
C. Manifestasi klinik
  1. Manifestasi klinik yang biasa muncul pada Gastritis Akut lainnya, yaitu Anorexia, mual, muntah, nyeri epigastrium, perdarahan saluran cerna pada Hematemesis melena, tanda lebih lanjut yaitu anemia.
  2. Gastritis Kronik
Kebanyakan klien tidak mempunyai keluhan, hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anorexia, nausea, dan keluhan anemia dan pemeriksaan fisik tidak di jumpai kelainan.
D. Proses Penyakit
  • Gastritis akut
    Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiitasi mukosa lambung.
    Jika mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan terjadi :
    1. Karena terjadi iritasi mukosa lambung sebagai kompensasi lambung. Lambung akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3 akan berikatan dengan NaCL sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3.
      Hasil dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam lambung meningkat maka akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi gangguan nutrisi cairan & elektrolit
    2. Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang   dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi hemostatis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal melindungi mukosa lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan menyebabkan nyeri dan hypovolemik.
         . Gastritis kronis
Gastritis kronik disebabkan oleh gastritis akut yang berulang sehingga terjadi iritasi mukosa lambung yang berulang-ulang dan terjadi penyembuhan yang tidak sempurna akibatnya akan terjadi atrhopi kelenjar epitel dan hilangnya sel pariental dan sel chief. Karena sel pariental dan sel chief hilang maka produksi HCL. Pepsin dan fungsi intinsik lainnya akan menurun dan dinding lambung juga menjadi tipis serta mukosanya rata, Gastritis itu bisa sembuh dan juga bisa terjadi perdarahan serta formasi ulser.


E. Komplikasi
  1. Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.
  2. 2.Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus.
F. Penatalaksaan Medik
  1. Gastritis Akut
    Pemberian obat-obatan H2 blocking (Antagonis reseptor H2). Inhibitor pompa proton, ankikolinergik dan antasid (Obat-obatan alkus lambung yang lain). Fungsi obat tersebut untuk mengatur sekresi asam lambung.
  2. Gastritis Kronik
    Pemberian obat-obatan atau pengobatan empiris berupa antasid, antagonis H2 atau inhibitor pompa proton.
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gastritis
A. Pengkajian
  1. Faktor predisposisi dan presipitasi
    Faktor predisposisi adalah bahan-bahan kimia, merokok, kafein, steroid, obat analgetik, anti inflamasi, cuka atau lada.
    Faktor presipitasinya adalah kebiasaan mengkonsumsi alcohol dan rokok, penggunaan obat-obatan, pola makan dan
    diet yang tidak teratur, serta gaya hidup seperti kurang istirahat.



  1. Test dignostik
    • Endoskopi : akan tampak erosi multi yang sebagian biasanya berdarah dan letaknya tersebar.
    • Pemeriksaan Hispatologi : akan tampak kerusakan mukosa karena erosi tidak pernah melewati mukosa muskularis.
    • Pemeriksaan radiology.
    • Pemeriksaan laboratorium.
    • Analisa gaster : untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL menurun pada klien dengan gastritis kronik.
      • Kadar serum vitamin B12 : Nilai normalnya 200-1000 Pg/ml, kadar vitamin B12 yang rendah merupakan anemia megalostatik.
      • Kadar hemagiobi, hematokrit, trombosit, leukosit dan albumin.
      • Gastroscopy.
        Untuk mengetahui permukaan mukosa (perubahan) mengidentifikasi area perdarahan dan mengambil jaringan untuk biopsi.
B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
  1. Resti gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
  2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anorexia.
  3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi mukosa lambung.
  4. Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
  5. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.
C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan 1. :
Tujuan :
Resti gangguan keseimbangan cairan tidak terjadi.

Kriteria Hasil :
Membran mukosa lembab, turgor kulit baik, elektrolit kembali normal, pengisian kapiler berwarna merah muda, tanda vital stabil, input dan output seimbang.
Intervensi :
Kaji tanda dan gejala dehidrasi, observasi TTV, ukur intake dan out anjurkan klien untuk minum ± 1500-2500ml, observasi kulit dan membran mukosa, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan infus.

Diagnosa Keperawatan 2. :
Tujuan
Gangguan nutrisi teratasi.
Kriteria Hasil :
Berat badan stabil, nilai laboratorium Albumin normal, tidak mual dan muntah BB dalam batas normal, bising usus normal.
Intervensi :
Kaji intake makanan, timbang BB secara teratur, berikan perawatan oral secara teratur, anjurkan klien makan sedikit tapi sering, berikan makanan dalam keadaan hangat, auskultasi bising usus, kaji makanan yang disukai, awasi pemeriksaan laboratorium misalnya : Hb, Ht, Albumin
.
Diagnosa Keperawatan 3. :
Tujuan :
Nyeri dapat berkurang/hilang.
Kriteria Hasil :
Nyeri hilang/terkontrol, tampak rileks dan mampu tidur/istirahat, skala nyeri menunjukkan angka 0.
Intervensi :
Kaji skala nyeri dan lokasi nyeri, observasi TTV, berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, anjurkan tekhnik relaksasi dengan nafas dalam, lakukan kolaborasi dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi untuk mengurangi nyeri.


Diagnosa Keperawatan 4. :
Tujuan :
Keterbatasan aktifitas teratasi.
Kriteria Hasil :
K/u baik, klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.
Intervensi :
Tingkatkan tirah baring atau duduk, berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, batasi pengunjung, dorong penggunaan tekhnik relaksasi, kaji nyeri tekan pada gaster, berikan obat sesuai dengan indikasi.

Diagnosa Keperawatan 5. :
Tujuan :
Kurang pengetahuan teratasi.
Kriteria Hasil :
Klien dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perawatan, pencegahan dan pengobatan.
Intervensi :
Kaji tingkat pengetahuan klien, beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit, beri kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya, beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan klien.

D. Evaluasi
Evaluasi pada klien dengan Gastrtitis, yaitu :
1.      Keseimbangan cairan dan elektrolit teratasi
2.      Kebutuhan nutrisi teratasi
3.      Gangguan rasa nyeri berkurang
4.      Klien dapat melakukan aktifitas
5.      Pengetahuan klien bertambah.

Kamis, 22 Desember 2011

Pengkajian Keperawatan & Rencana Keperawatan Pasien dengan Trombositeopenia by Virginia Handerson



 by safrudin
  ASUHAN KEPERAWATAN
1.       Fokus Pengkajian Kebutuhan Dasar Manusia menurut Virginia Henderson
1)      Bernafas Dengan Normal
Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda obstruksi jalan nafas dan siap memberikan bantuan dalam keadaan apapun
2)      Kebutuhan Akan Nutrisi
Perawat harus mampu memberikan penjelasan mengenai tinggi dan berat badan yang normal, kebutuhan nuitrisi yang diperlukan, pemilihan dan penyediaan makanan. Perawat harus mengetahui kebiasaan, kepercayaan pasien tentang nutrisi.
3)      Kebutuhan Eliminasi
Perawatan dasar meliputi semua pengeluaran tubuh. Perawat harus mengetahui semua saluran dan keadaan normalnya, jarak waktu pengeluaran dan frekuensi pengeluaran, yang meliputi keringat, udara yang keluar saat bernafas, menstruasi, muntah, buang air besar dan buang air kecil.
4)      Gerak dan Keseimbangan Tubuh
Perawat harus mengetahui tentang prinsip-prinsip keseimbangan tubuh, miring, dan bersandar. Perawat harus bisa memberikan rasa nyaman dalam semua posisi, dan tidak membiarkan berbaring terlalu lama pada satu posisi dan melindunginya selama sakit dengan berhati-hati saat memindahkan dan mengangkat.
5)      Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur sebagian tergantung pada relaksasi oto, untuk itu perawat harus mengetahui tentang pergerakan badan yang baik. Disamping itu juga dipengaruhi oleh emosi (stress), dimana stress bias merupakan keadaan patologis apabila ketegangan dapat diatasi atau tidak terkontrol dengan istirahat atau tidur dengan secukupnya.
6)      Kebutuhan Berpakaian
Perawatan dasar meliputi membantu pasien memilihkan pakaian yang tepat dari pakaian yang tersedia dan membantu untuk memakainya.
7)      Mempertahankan Temperature Tubuh atau Sirkulasi
Perawat harus mengetahui fisiologi panas dan bias mendorong kea rah terciptanya keadaan panas maupun dingin dengan mengubah temperatur, kelembaban atau pergerakan udara, atau dengan memotivasi pasien untuk meningkatkan atau mengurangi aktifitasnya. Menu makanan dan pakaian yang dikenakan juga mempengaruhi keadaan ini.
8)      Kebutuhan Akan Personal Hygiene
Konsep-konsep mengenai kebersihan berbeda tiap pasien tetapi tidak perlu menurunkan hanya karena sakit. Perawat harus bisa menjaga pasiennya tetap bersih terlepas dari besarnya badan pasien, kedudukan, keadaan fisik dan jiwanya.
9)      Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Dalam keadaan sehat setiap orang bebas mengontrol keadaan sekelilingnya atau mengubah keadaan itu bila berangaapan sudah tidak cocok lagi. Jika sakit sikap tersebut tidak dapat dilakukannya. Ketidaktahuan dapat menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu baik dalam keadaan sehat maupun sakit.
Perawatan dasarnya meliputi melindungi pasien dari trauma dan bahaya yang timbul mikroorganisme pathogen.
10)   Berkomunikasi dengan Orang Lain dan Mengekspresikan emosi, keinginan, rasa takut, dan pendapat
Keinginan, rasa takut, dan pendapat dalam keadaan sehat tiap gerakan emosi nampak pada ekspresi fisik. Bertambah cepatnya denyut jantung atau pernafasan atau muka yang mendadak merah diinterpretasikan sebagai pernyataan jiwa atau emosi. Tugas perawat disini adalah sebagai penerjemah dalam hubungan pasien  dengan tim kesehatan lain dalam memajukan kesehatanya, membuat pasien mengerti dirinya sendiri, mgerti perlunya perubahan sikap yang memperburuk kesehatannya dan menerima keadaan yang tidak dapat diubah. Penciptaan lingkungan yang terapeutik sangat membantu dalam hal ini.
11)   Kebutuhan Spiritual
Dalam memberikan perawatan dalam situasi apapun kebutuhan spiritual pasien harus dihormati dan perawat harus membantu dalam pemenuhan kebutuhan itu. Perawat dan tim kesehatan lainnya harus menyadari bahwa keyakinan, kepercayaan dan agama sangat berpengaruh terhadap upaya penyembuhan.
12)   Kebutuhan Bekerja
Sakit dapat menjadi lebih ringan apabila seseorang dapat terus bekerja. Rasa keberatan terhadap terapi bed rest didasarkan pada meningkatnya perasaan tidak berguna karena tidak aktif. Rehabilitasi pada pasien berarti menempatkan kembali pada pekerjaannya yang produktif. Makin singkat waktu tidak bekerja makin mudah dilaksanakan.
13)   Kebutuhan Bermain dan Rekreasi
Rasa sakit menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan menikmati variasi dan udara segar serta rekreasi. Untuk itu perlu dipilihkan beberapa aktifitas yang sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kecerdasan, pengalaman dan selera pasien, kondisi, serta keadaan penyakitnya.
14)   Kebutuhan Belajar
Tugas perawat disini adalah membantu pasien belajar dalam mendorong usaha penyembuhan dan meningkatkan kesehatan, serta memperkuat dan mengikuti rencana terapi yang diberikan.
Fungsi perawat sebagai pendidik nampak dalam pemberian bimbingan dengan memberikan contoh-contoh dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Bimbingan belajar dapat dilakukan setiap saat ketika perawat memberikan asuhan (Meidiana, 1998).

2.       Diagnosa Keperawatan Menurut Wilkinson (2006):
1)      Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
2)      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
3)      Resiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
4)      Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan
5)      Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv (pemasangan infus)
6)      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang perhatian dalam belajar

  1. Fokus Intervensi Menurut Wilkinson (2006) dan Rasionalnya Menurut Doenges (2000):
1)      Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang
KH: -   Menunjukkan tingkatan nyeri, misal skala nyeri 2
-      Klien tampak rileks
Intervensi:
1.       Kaji karakteristik nyeri
Rasionalnya untuk membantu mengkaji kebutuhan intervensi, dapat mengidentifikasikan terjadinya komplikasi
2.       Pantau tanda-tanda vital
Rasionalnya perubahan frekuansi jantung atau tekanan darah menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri
3.       Berikan posisi nyaman (semi fowler)
Rasionalnya duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan
4.       Ajarkan latihan nafas dalam
Rasionalnya untuk meningkatkan ventilitas maksimal dan oksigenasi
5.       Ajarkan distraksi relaksasi
Rasionalnya untuk meningkatkan kemampuan koping pasien terhadap nyeri
6.       Kompres air hangat
Rasionalnya karena hangat dapat menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan sirkulasi pada area hipoksia
7.       Kolaborasi pemberian obat analgetik
Rasionalnya untuk meredakan nyeri
2)      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan: Menunjukkan penghematan energi klien
KH: -    Menyadari keterbatasan energi
-          Menyeimbangkan aktifitas dan istirahat
-          Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktifitas
Intervensi:
1.       Kaji respon emosi, social, dan spiritual terhadap aktifitas
Rasionalnya untuk menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
2.       Kaji penyebab kelemahan
Rasionalnya untuk menentukan intervensi yang tepat
3.       Kaji tanda-tanda vital
Rasionalnya untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada pasien yaitu respon automatic meliputi perubahan tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu berhubungan dengan keluhan kelemahan tubuh karena berpengaruh pada aktifitas tubuh
4.       Pantau asupan nutrisi
Rasionalnya untuk memastikan keadekuatan sumber-sumber energi
5.       Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasionalnya lingkungan yang nyaman dapat menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar dan meningkatkan relaksasi sehingga pasien dapat istirahat dengan nyaman
6.       Bantu aktivitas pasien sesuai kemampuan pasien
Rasionalnya untuk meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
7.       Kolaborasi dengan ahli gizi
Rasionalnya untuk merencanakan makanan untuk meningkatkan asupan makanan yang tinggi energi
3)      Resiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Tujuan: Pengendalian resiko perdarahan
KH: Pasien dapat menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan (perdarahan), jumlah trombosit dalam batas normal (150.000 sampai 400.000)
Intervensi:
1.       Identifikasi  faktor yang mempengaruhi keamanan pasien
Rasionalnya untuk meminimalkan terjadinya resiko perdarahan
2.       Pantau tanda-tanda vital
Dengan adanya peningkatan tekanan darah dan CVP serta evaluasi lain dapat menunjukkan kehilangan volume darah sirkulasi
3.       Beritahukan kepada pasien untuk menghindari terjadinya perdarahan seperti berhati-hati dalam menggosok gigi dan terkena luka
Rasionalnya pada adanya gangguan faktor pembekuan, trauma minimal dapat menyebabkan perdarahan mukosa
4.       Kolaborasi pemeriksaan laboratorium terhadap trombosit
Rasionalnya penekanan pembentukan trombosit dan keadekuatan kadar faktor III dan VIII menggangngu pembekuan dan potensial resiko perdarahan
4)      Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv (pemasangan infus)
Tujuan : Tidak terjadi resiko infeksi
KH           : Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi:
1.       Kaji tanda-tanda infeksi
Rasionalnya untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi
2.       Pantau tanda-tanda vital
Rasionalnya perubahan frekuansi jantung atau tekanan darah menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri
3.       Berikan lingkungan yang bersih dan nyaman
Rasionalnya untuk meminimalkan terjadinya infeksi
4.       Lakukan perawatan infusi
Rasionalnya balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi
5.       Kolaborasi pemberian obat antibiotik
Rasionalnya untuk membantu mengurangi terjadinya infeksi
5)      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang perhatian didalam belajar
Tujuan: Pasien mengetahui tentang penyakitnya
KH:  -   Pasien bertanya kepada perawat tentang penyakitnya
-       Pasien paham dengan penjelasan yang diberikan oleh perawat
Intervensi:
1.       Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarganya tentang penyakit yang diderita pasien
Rasional: mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki keluarga dan kebenaran informasi yang didapat
2.       Kaji motivasi pasien untuk belajar
Rasionalnya untuk mengetahui sejauh mana pasien menginginkan informasi tentang penyakit
3.       Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakitnya
Penjelasan dapat membantu dan menciptakan kenyamanan yang realistis dan meningkatkan pemahaman pada keadaan saat ini dan kebutuhannya
4.       Menggunakan pendekatan pengajaran multiple (memberikan kesempatan pada pasien dan keluarga untuk bertanya)
Rasionalnya pengetahuan yang akurat memberikan kesempatan pada pasien untuk membuat keputusan dan kontrol penyakit serta membantu dalam membangun harapan yang realistis dan mempengaruhi pilihan metode pengajaran dalam pendidikan  
5.       Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasionalnya untuk meningkatkan konsentrasi saat dilakukan pendidikan kesehatan
6.       Berikan motivasi pasien untuk belajar
Rasionalnya meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerjasama dalam penyembuhan  

Sumber Pustaka
Carpenito, L.J. 1999. Rencana asuhan dan dokumentasi keperawatan. Edisi 2. Alih bahasa Monica Ester. Jakarta:  EGC
Corwin, E.J. 2000. Buku saku patofisiologi. Alih bahasa Braham. U. Jakarta:  EGC
Doenges, 2000. Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, Edisi 3, Alih bahasa I Made Kariasa. Jakarta:  EGC
Wilkinson, J.M, 2006. Buku saku diagnosis keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC. Jakarta:  EGC

Selasa, 20 Desember 2011

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Thypoid


1. Pengertian
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

2.  Etiologi

Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3. Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
4. Manifestasi Klinik
Masa tunas typhoid 10 – 14 hari
a. Minggu I
pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
b. Minggu II
pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.

5. Komplikasi

a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perporasi usus
3) Ilius paralitik
b. Komplikasi extra intestinal
1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

6. Penatalaksanaan

a. Perawatan.

1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.

b. Diet.

1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.

c. Obat-obatan.

1) Klorampenikol
2) Tiampenikol
3) Kotrimoxazol
4) Amoxilin dan ampicillin

7. Pencegahan

Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas

8. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
1) Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
d. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :
a. Faktor yang berhubungan dengan klien :
1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
3. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.
8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.
b. Faktor-faktor Teknis
1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.
3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain. 

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Faktor Presipitasi dan Predisposisi
Faktor presipitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang ditularkan melalui makanan, jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila klien makan tidak teratur. Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah :
a. Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.
b. Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
c. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.
d. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.
e. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat.
3. Perencanaan
Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut :
Diagnosa. 1
Resti gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipertermia dan muntah.
Tujuan
Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria hasil
Membran mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas normal, tanda-tanda dehidrasi tidak ada
Intervensi
Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan peningkatan suhu tubuh, pantau intake dan output cairan dalam 24 jam, ukur BB tiap hari pada waktu dan jam yang sama, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan distorsi lambung. Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K, Na, Cl) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi.
Diagnosa. 2
Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi
Kriteria hasil
Nafsu makan bertambah, menunjukkan berat badan stabil/ideal, nilai bising usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal, konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat.
Intervensi
Kaji pola nutrisi klien, kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien, anjurkan tirah baring/pembatasan aktivitas selama fase akut, timbang berat badan tiap hari. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi lambung, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Ht dan Albumin dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik seperti (ranitidine).
Diagnosa 3
Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi
Tujuan
Hipertermi teratasi
Kriteria hasil
Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.
Intervensi
Observasi suhu tubuh klien, anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien, beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas, anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.
Diagnosa 4
Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan
Kebutuhan sehari-hari terpenuhi
Kriteria hasil
Mampu melakukan aktivitas, bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot.
Intervensi
Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung, bantu kebutuhan sehari-hari klien seperti mandi, BAB dan BAK, bantu klien mobilisasi secara bertahap, dekatkan barang-barang yang selalu di butuhkan ke meja klien, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin sesuai indikasi.
Diagnosa 5
Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive
Tujuan
Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil
Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi purulen/drainase serta febris.
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR). Observasi kelancaran tetesan infus, monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi.
Diagnosa 6
Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya, melalui perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam pengobatan.
Intervensinya
Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya, Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien, beri kesempatan keluaga untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti, beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat, pilih berbagai strategi belajar seperti teknik ceramah, tanya jawab dan demonstrasi dan tanyakan apa yang tidak di ketahui klien, libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien

4. Evaluasi
Berdasarkan implementasi yang di lakukan, maka evaluasi yang di harapkan untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital stabil, kebutuhan cairan terpenuhi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, tidak terjadi hipertermia, klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya.