Selamat Datang dan Semoga Bermanfaat STIKES Sarana Sistem Informasi Kesehatan
Custom Search

Kamis, 19 April 2012

komunikasi organisasi


RESUME KOMUNIKASI ORGANISASI
Sistem saluran komunikasi organisasi formal :
*      Unit Komunikasi :
·         Entitas berkelanjutan yangmampu berada dalam dua keadaan atau lebih.
·         Keadaan dimana hubungan antara orang-orang.
·         Dalam jabatan (posisi).
·         Seseorang dalam jabatan → unit mendasar dalam komunikasi  organisasi.

*      Proses komunikasi organisasi :

·         Komunikasi internal :
ü  Vertikal : pimpinan ke staff atau sebaliknya. Downward (dari pimpinan ke staff) ex : pimpinan memberikan perintah/informasi/penjelasan dan lain2.Upward (dari staff ke pimpinan ).ex: laporan,saran kritik,dan lain2
ü  Horizontal : mendatar antar anggota staff. Berlangsung tidak formal bisa menimbulkan rumor/gossip.
ü  Diagonal : biasa disebut cross comuniccation . komunikasi antara pimpinan seksi/kepala bagian dll.
·         Komunikasi Eksternal :
Komunikasi yang berlangsung dari  organisasi kepada khalayak umum,bersifat informatif. Menggunakan perantara seperti : majalah, media, surat  kabar, brosur, konferensi pers, poster, dll.
Setiap staff , seharusnya :
-          Relation ship oriented           Networking : Sinergi, semangat kerja.
-          Servise Forushed         Berfikir pada pelayanan.
-          Costumer commited          Komitmen pada pelanggan.
-          Forward Thinking         Berfikir kedepan.
-          Update Ilmu
-          Team Driven (Serba Team).
-          Fasilitatif (Sebagai Saluran/ pendukung).
-          Leader (mampu tampil sebagai pemimpin).
-          Faktor efektif komunikasi :
a.      Saluran komunikasi formal : Komunikasi efektif sulit dicapai dalam organisasi yang besar dan cabang-cabangnya menyebar.
b.      Struktur Organisasi : Perbedaan kekuasaan dan kedudukan.
c.       Spesialisasi jabatan : tujuan, waktu, gaya yang sama. Kelompok yang berbeda cenderung terhambat dalam nproses komunikas yang efektif.
d.      Pemilikan informasi : Kepala bidang keperawatan , kepala tata usaha, dll.

KOMUNIKASI ORGANISASI

--> Pertunjukan dan penafsiran pesan...

Posisi komunikasi:
Orang : - menciptakan <=> orang : - menafsirkan
- pertunjukan reaksi
- pesan
- pertunjukan aksi
- pesan
\ /
\ /
\ /
\ /
komunikasi


Komunikasi
1. Internal
- Vertikal --> Donwart --> pimpinan ke staff.
--> upwart --> staff memberi laporan pada pemimpinan.
- Horisontal --> komunikasi tidak dalam suasana kerja.
- Diagonal --> komunikasi silang pimpinan seksi ke seksi.
ex : jika ada bawahan yang akan sekolah maka diusulkan kebagian lain.

2. Eksternal
- Organisasi kehalayak --> informatif
ex : majalah, poster, brosur.
- Dari halayak keorganisasi.




Staff Harusnya
1. Relationship
2. Serviced Focused --> fokus pada pelayanan
3. Coustomer Commited --> Komitmen pada pelanggan
4. Fasilitative --> media saluran
5. Forward thinking --> berfikir kedepan
6. Value added --> nilai tambah kemampuan komunikasi
7. Team driver --> serba tim
8. Leader --> sebagai pemimpin

Sabtu, 14 April 2012

Kegiatan Praktek Manajemen Keperawatan


CONTOH KEGIATAN PRAKTEK MANAJEMEN KEPERAWATAN
BAGI PROFESI KEPERAWATAN DI PELAYANAN KEPERAWATAN RS

1.    Melakukan Pengkajian situasi ruangan yang meliputi :
a.         Orientasi ruangan dan perkenalan
b.         Menyusun struktur organisasi kelompok
c.         Melakukan telaah falsafah, visi, dan misi institusi
d.        Melakukan analisa SWOT ruang keperawatan
e.         Mengidentifikasi masalah dan prioritas masalah
2.    Mendesiminasikan hasil analisa dan masalah yang ditemukan
3.   Menyusun perencanaan untuk mengatasi masalah pelayanan keperawatan yang ditemukan, meliputi :
a.         Menyusun rencana strategis dan langkah operasional
b.         Menyusun rencana pelaksanaan
c.    Menyusun jadwal dan rancanagan pembagian tugas/peran dalam mengatasi masalah pelayanan keperawatan
4.    Mengimplementasikan rencana kegiatan yang telah disepakati, meliputi :
a.     Mengimplementasikan pengoraganisasian model asuhan keperawatan profesional
b.    Melaksanakan role model (karu, PP, PA)
c.     Melaksanakan timbang terima
d.    Melaksanakan sentralisasi obat
e.     Melaksanakan ronde keperawatan
f.     Melaksanakan supervisi
5.    Melakukan evaluasi pelayanan keperawatan, meliputi :
a.    Melakukan evaluasi program, desiminasi berdasarkan prinsip manajemen (standar, struktur, proses, dan hasil).
b.    Melakukan desiminasi hasil kegiatan
c.    Merumuskan usulan upaya tindak lanjut
d.   Menyusun laporan hasil kegiatan

ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Melakukan asuhan keperawatan meliputi :
a.    Pengkajian
b.    Dx. Keperawatan
c.    Perencanaan
d.   Pelaksanaan
e.    Evaluasi
2.      Melakukan kunjungan rumah jika memungkinkan
3.      Melakukan desiminasi hasil asuhan keperawatan
4.      Menyusun laporan asuhan keperawatan komprehensif


Kamis, 12 April 2012

Preceptorship and Mentorship


Preceptorship and mentorship are immensely valuable to nursing. Preceptors and mentors provide life-long lessons to new graduates and younger nurses that ensure the quality of knowledge within the nursing profession will remain strong for years to come. Making programs like preceptorship and mentorship available also demonstrates an organizational commitment to nursing that provides a high level of job satisfaction.

Preceptorship
RNAO Resources
·
Practice Page on Preceptorship
·
Practice Page on Mentorship
Nurses have a responsibility to constantly advance their abilities and knowledge to be able to provide patient care that is increasingly complex. This responsibility includes sharing their skills with new nurses or students so that future generations of nurses are also able to provide superior care. This professional development can be provided through a comprehensive preceptorship program that takes place with the support of employers.
Preceptors help guide the transition and integration of nursing students into the nursing workforce. They support the development of clinical competence and confidence in a way that allows the junior nurse to grow professionally, but also provides immense rewards for the preceptor. By sharing their knowledge with junior nurses, preceptors help improve job satisfaction, decrease orientation time and have a direct impact on how well the nurse will perform on the job.
Precepting occurs in patient care situations, allowing the preceptor to guide the student or new nurse through the procedures required to provide the best care. This role is crucial to ensuring future nurses can perform at a high level and with confidence in a clinical setting, but it cannot take place without the support of workplaces that are committed to their nursing staffs.
Managers, administrators, educators and health team members all need to support a preceptorship program for it to be successful. Management must offer support by allowing a preceptor to balance the role with patient responsibilities, and clinical team members must also be involved so that the needs of patient continue to be met. Education that presents principles of adult education and as well as instruction on developing learning objectives, teaching-learning styles and giving feedback and evaluation must also be provided for the preceptor. Preceptors also need opportunities for informal education by networking with each other to share stories and strategies.
It is important for the organization to recognize that the hard work of preceptors is a determining factor in positive job satisfaction and commitment to the role. Support can come from provision of resources and education to carry out the role, assistance with workloads, or it can be more overt through recognition at employee events or in organizational newsletter.
MentorshipMentorship provides another avenue for younger nurses to develop strong relationships with senior nurses that contribute to the development of both individuals and plays a role in the retention of nurses within an organization. Mentors provide information, advice and support to less senior nurses over an indefinite period of time. Both the mentor and mentee invest a significant amount in the relationship emotionally, allowing for self-directed growth and learning. Mentoring provides many benefits, it can:
  • Bridge the gap between theory and nursing practice.
  • Provide guidance for transformational leadership.
  • Enhance critical thinking and career development.
  • Increase self-esteem, job enrichment and willingness to take risks.
  • Enhance productivity, managerial skills and a sense of professionalism.
  • Act as a recruitment and retention strategy. Nurses who are mentored are more likely to remain in their current position.
Despite mentorship’s many benefits, it faces some major hurdles. There are fewer nurses in leadership positions to act as mentors. The high number of part-time and casual nurses does not provide a supportive environment for mentoring, yet mentoring has never been more important as the approaching retirements of many senior nurses means new nurses must be recruited. The emotional demand of mentorship also makes it more difficult to recruit a nurse into a mentorship role, particularly when those nurses already face higher levels of stress treating patients with higher acuity levels.
To overcome these challenges, mentorship should be a key recruitment and retention strategy. Individuals can support mentorship programs by advocating for funds to develop programs, supporting mentorship through continuing education and staff recognition, and by individually seeking out mentors through networking opportunities, developing working relationships and learning from more experienced nurses. Nurses who participate in mentorship programs will provide better patient care while increasing their own knowledge and professional growth; participating in mentorship provides the opportunity for life-long learning and helps retain and develop the best nurses for today and tomorrow.
Adapted from:

Senin, 09 April 2012

Seberapa kuat motivasi Anda?


Test motivasi ini saya dapatkan dari sebuah buku: Total Motivation. Test ini sering saya terapkan bagi mahasiswa di tempat kami bekerja dan banyak benarnya ketika mahasiswa dapat memotivasi diri lebih kuat, pencapaian tujuan belajar lebih cepat tercapai. Setelah test ini dilakukan perlu dilakukan test fisik dengan permainan pematahan sebuah pensil dengan 1 jari kelingking. Permainan ini untuk membangkitkan semangat lebih potensi diri supaya individu tidak membatasi diri untuk tidak melakukan sesuatu. 

Pertanyaan ini Agar Anda dapat menginstrospeksi diri, apakah anda termasuk orang yang mampu memotivasi diri sendiri, dibawah ini adalah sebuah tes sederhana yang dapat Anda kerjakan . Anda perlu menjawabnya secara jujur dan spontan. Pilih satu jawaban yang paling tepat sesuai dengan kondisi yang pernah Anda akami atau, kalau Anda belum mengalaminya, sesuai dengan perkiraan Anda jika mengalami tersebut.

1.     Ketika bangun pagi, apa yang lebih sering Anda rasakan?
a.    Merasa hari itu Anda harus memiliki kegiatan
b.    Merasa banyak kegiatan pada hari itu
c.    Merasa bahwa tidur Anda kurang
2.    seberapa sering Anda membuat dan mengevaluasi rencana hidup Anda?
a.    Tidak menentu, tergantung kapan maunya saja
b.    Setiap bulan atau setiap bulan
c.    Setiap hari atau setiap pekan
3.    Siapa orang disekitar Anda yang paling besar pengaruhnya dalam memotivasi Anda
a.    Relatif tidak ada
b.    Orang tua
c.    Teman sejawat/pergaulan
4.    Jika Anda ingin mengambil keputusan, Anda lebih banyak memutuskan dengan cara:
a.    Mengikuti apa kata hati nurani Anda
b.    Selalu mengikuti pertimbangan orang lain
c.    Seringkali mengikuti pertimbangan orang lain
5.    Seringkah Anda bingung tentang apa yang harus Anda kerjakan hari ini?
a.    Sering
b.    Jarang
c.    Hampir tidak pernah
6.    Apakah Anda merasa kurang kreatif>
a.    Ya
b.    Relatif, tergantung dalam hal apa?
c.    Tidak
7.    Seringkah Anda mengalami bosan?
a.    Jarang
b.    Sering
c.    Hampir tidak pernah
8.    Waktu Anda lebih banyak diatur oleh siapa?
a.    Diri Anda sendiri
b.    Orang lain
c.    Relatif seimbang, antara diri sendiri dan orang lain.
9.    Apakah Anda sering mencapai apa yang Anda inginkan?
a.    Sering
b.    Jarang
c.    Hampir selalu
10.  Menurut Anda, apakah sebagian besar keinginan (cita-cita) Anda terlalu:
a.    Tinggi
b.    Rendah
c.    Biasa-biasa saja
11.   Menurut Anda, apakah anda termasuk orang yang tekun?
a.    Ya
b.    Tidak
c.    Kadang ya, kadang tidak
12.  Seberapa penting pekerjaan yang Anda lakukan saat ini?
a.    Kurang penting
b.    Penting
c.    Sangat penting
13.  Apakah Anda merasa bekerja sesuai dengan poternsi dan bakat Anda?
a.    Ya
b.    Tidak
c.    Tidak tahu
14.  Dalam sepekan, berapa jam Anda rata-rata menonton TV?
a.    0-7 jam
b.    8-14 jam
c.    15 jam
15.  Seberapa penting menurut Anda kehadiran seorang motivator dalam hidup Anda?
a.    Penting sekali
b.    Penting
c.    Kurang penting
16.  Menurut Anda, seberapa sering Anda melanggar janji temu dengan orang lain?
a.    Sering
b.    Jarang
c.    Hampir tidak pernah
17.  Pada Saat kapan Anda merasa sering tidak bersemngat
a.    Pada saat lingkungan membosankan (tidak memberi semangat)?
b.    Pada saat Anda merasa lelah
c.    Pada saat Anda merasa gagal
18.  Bagaimana anda melihat masa depan Anda
a.    Cerah
b.    Tidak
c.    Tidak tahu
19.  Apakah Anda merasa sukses saat ini?
a.    Ya
b.    Tidak
c.    Tidak tahu
20. Menurut Anda, apakah Anda termasuk orang yang mampu memotivasi diri sendiri
a.    ya
b.    tidak
c.    relatif, tergantung situasi


Kunci jawaban:

1.     a =3, b=5, c=1                     11. a =5, b=1, c=3
2.    a =1, b=3, c=5                     12. a =1, b=3, c=5
3.    a =5, b=1, c=3                     13. a =1, b=3, c=5
4.    a =5, b=1, c=3                     14. a =5, b=3, c=1
5.    a =1, b=3, c=5                     15. a =1, b=3, c=5
6.    a =1, b=3, c=5                     16. a =1, b=3, c=5
7.    a =5, b=3, c=1                     17. a =1, b=5, c=3
8.    a =5, b=1, c=3                     18. a =5, b=1, c=3
9.    a =3, b=1, c=5                     19. a =5, b=1, c=3
10.  a =1, b=5, c=3                     20. a =5, b=1, c=3


Jika jawaban Anda nilainya 15-43:
Kemampuan anda memotivasi diri sendiri kurang, Anda masih perlu dimotivasi oleh orang lain. Bagi anda, lingkungan (orang lain) sangat penting untuk membuat Anda bersemangat atau tidak bersemangat melakukan sesuatu. Hal ini membuat kurang tekun melakukan sesuatu, sulit berinisiatif, lambat memperoleh peluang, terbiasa menunda-nunda pekerjaan dan sering mengalami kejenuhan. Anda perlu meningkatkan kemampuan motivasi diri Anda. Jika tidak, Anda mungkin akan sulit memperoleh kesuksesan

Jika jawaban Anda nilainya 44-76:
Kemampuan Anda memotivasi diri sendang-sedang saja. Tidak teralu rendah, tapi juga tidak terlalu tinggi. Anda belum termasuk seorang motivator. Karena Anda masih membuthkan lingkungan (orang) lain untuk memotivasi diri Anda. Kadangkala Anda terlihat termotivasi melakukan sesuatu, tapi kadangkala juga tidak. Anda masih angin-anginan dalam bekerja. Sifat Anda termasuk bisa membuat anda kehilangan kesempatan dibandingkan orang yang lebih tekun dan bersemangat daripada Anda. Adna perlu merubahnya dengan meningkatkan kemampuan motivasi Adna. Hal itu sebenarnya mudah Anda lakukan, karena sebenarnya Anda sering juga mampu memotivasi diri Sendiri.


Jika jawaban Anda nilainya >77:
Selamat! Kesuksesan telah dan akan terus Adan raih. Adan telah memiliki salah satu modal utama kesuksesan, yaitu mampu memotivasi diri sendiri. Anda adalah orang yang tekun bekerja, kreatif, optimis, tidak cepat patah semangat dan jenih, serta proaktif dalam membaca peluang. Dengan motivasi Anda yang tinggi tersebut, Anda menjadi orang yang disukai dalam pergaulan. Karena Anda terlihat sebagai orang yang antusias, bergairah dan produktif bekerja. Anda diaggap sebagai motivator oleh lingkungan Anda, karena semangat Anda dapat membuat lingkungan Anda menjadi bergairah dan produktif.

Indikator Pelayanan Rumah Sakit


Indikator-Indikator Pelayanan Rumah Sakit berdasarkan
BOR, AVLOS, TOI, BTO, GDR, NDR

Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :
1. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to inpatient bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu.
Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
Rumus :
BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%
2. AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus :
AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus :
TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien keluar (hidup +mati)
4. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah “...the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.
Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus :
BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
5. NDR (Net Death Rate)
NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
Rumus :
NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati) ) X 1000 ‰
6. GDR (Gross Death Rate)
GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar.
Rumus :
GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X 1000 ‰

Sabtu, 25 Februari 2012

Dakwah Kultural Muhammadiyah


DAKWAH KULTURAL DAN PEMURNIAN AJARAN ISLAM
Oleh: H. Syamsul Hidayat
Wakil Ketua MTDK PP Muhammadiyah


Pengertian dan  Landasannya.
Dakwah Kultural sebagai strategi perubahan sosial bertahap sesuai dengan kondisi empirik yang diarahkan kepada pengembangan kehidupan Islami sesuai dengan paham Muhammadiyah, yang bertumpu para pemurnian pemahaman dan pengamalan Ajaran Islam dengan menghidupan ijtihad dan tajdid. Sehingga purifikasi dan pemurnian Ajaran Islam tidak menjadi kaku, rigid dan eksklusif, tetapi terbuka dan memiliki rasionalitas yang tinggi untuk dapat diterima oleh semua pihak. Dengan memfokuskan pada penyadaran iman melalui potensi kemanusiaan, diharapkan umat dapat menerima dan memenuhi seluruh ajaran Islam yang kaffah, secara bertahap sesuai dengan keragaman sosial ekonomi, budaya, politik dan potensi yang dimiliki oleh setiap kelompok umat.[1]
Atas dasar pemikiran tersebut dakwah kultural dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu pengertian umum (makna luas) dan pengertian khusus (makna sempit). Dakwah kultural dalam arti luas dipahami sebagai kegiatan dakwah dengan memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia dengan makhluk berbudaya dalam rangka menghasil kultur alternatif yang kultur Islam, yakni berkebudayaan dan berperadaban yang dijiwai oleh pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam, yang murni bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah, dan melepaskan diri dari kultur dan budaya yang dijiwai oleh kemusyrikan, takhayul, bid’ah dan khurafat.[2]
Adapun dalam pengertian khusus, dakwah kultural adalah kegiatan dakwah dengan memperhatikan, memperhitungkan dan memanfaatkan adat-istiadat, seni, dan budaya loka, yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dalam proses menuju kehidupan Islami, sesuai dengan manhaj Muhammadiyah, yang bertumpu pada prinsip salafiyyah (purifikasi) dan tajdidiyyah (pembaharuan).[3]
Munculnya konsep dakwah kultural, sebagaimana diputuskan oleh Sidang Tanwir  Muhammadiyah, Januari 2002, didorong oleh keinginan Muhammadiyah untuk mengembangkan sayap dakwahnya menyentuh ke seluruh lapisan umat Islam yang beragam sosial kulturalnya. Sehingga dengan dakwah kultural, Muhammadiyah ingin memahami pluralitas budaya, sehingga dakwah yang ditujukan kepada mereka dilakukan dengan dialog kultural, sehingga akan mengurangi benturan-benturan yang selama ini dipandang kurang menguntungkan, tetapi tetap berpegang pada prinsip pemurnian (salafiyyah) dan pembaharuan (tajdidiyah).
Dengan demikian, dakwah kultural sebenarnya akan mengokohkan prinsip-prinsip dakwah dan amar makruf nahi munkar Muhammadiyah yang bertumpu pada tiga prinsip Tabsyir, Islah dan Tajdid (TIT).
Prinsip tabsyir, adalah upaya Muhamamdiyah untuk mendekati dan merangkul setiap potensi umat Islam (umat ijabah) dan umat non-muslim (umat dakwah) untuk bergabung dalam naungan petunjuk Islam, dengan cara-cara yang bijaksana, pengajaran dan bimbingan yang baik, dan mujadalah (diskusi dan debat) yang lebih baik. Kepada umat Ijabah (umat yang telah memeluk Islam), penekanan tabsyir kepada peningkatan dan penguatan visi dan semangat dalam berislam. Sementara kepada  umat dakwah (umat non-muslim) adalah memberikan pemahaman yang benar dan menarik tentang Islam, serta merangkul mereka untuk bersama-sama membangun masyarakat dan bangsa yang damai, aman, tertib dan sejahtera. Dengan cara ini dakwah kepada non-muslim tidak diarahkan untuk memaksa mereka memeluk Islam. Tetapi membawa mereka kepada pemahaman yang benar tentang Islam, sehingga mereka tertarik kepada Islam, bahwa dengan sukarela memasuki Islam.[4] 
Prinsip Islah, yaitu upaya membenahi dan memperbaiki cara berislam yang dimiliki oleh umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, dengan cara memurnikannya sesuai petunjuk syar’I yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Ini dapat diartikan bahwa setelah melakukan dakwah dengan tabsyir, maka umat yang bergabung diajak bersama-sama memperbaiki pemahaman dan pengamalannya terhadapIslam.
Umat yang telah bergabung dalam dakwah tabsyiriyah memiliki background yang beragam baik sosial ekonomi, sosial budaya, maupun latar belakang pendidikannya. Keragaman tersebut akan membawa pengaruh kepada cara pandang, pemahaman dan pengamalan Islam, yang dalam banyak hal perlu diperbaiki dan dibenahi sesuai dengan pemahaman keagamaan Muhammadiyah, yang bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah.[5]
Prinsip tajdid, sesuai dengan maknanya, prinsip ini mengupayakan pembaharuan, penguatan dan pemurnian atas pemahaman, dan pengamalan Islam yang dimiliki oleh umat ijabah, termasuk pelaku dakwah itu sendiri.
Baik prinsip islah maupun tajdid banyak dilakukan dengan cara menyelenggarakan pengajian dan ta’lim baik bersifat umum maupun terbatas. Juga mendirikan sekolah-sekolah, madrasah-madrasah dan pondok pesantren.

Dakwah Kultural dan Pengembangan Masyarakat
Terminologi Dakwah kultural memberikan penekanan makna yang berbeda dari dakwah konvensional yang disebut juga dengan dakwah struktural. Dakwah kultural memiliki makna dakwah Islam yang cair dengan berbagai kondisi dan aktivitas masyarakat. Sehingga bukan dakwah verbal, yang sering dikenal dengan dakwah bil lisan (atau tepatnya dakwah bi lisan al-maqal), tetapi dakwah aktif dan praktis melalui berbagai kegiatan dan potensi masyarakat sasaran dakwah, yang sering dikenal dengan dakwah bil hal (atau tepatnya dakwah bi lisan al-hal).
Dengan makna di atas, dakwah kultural Muhammadiyah sebenarnya mengembangkan makna dan implementasi Geraakan Jamaah dan Gerakan Dakwah Jamaah (GJ-GDJ) yang diputuskan oleh  Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Yogyakarta, tahun 1967, yang disempurnakan pada Rapat Kerja Nasional dan Dialog Dakwah Nasional, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1987 di Kaliurang.
Dakwah dengan pengembangan masyarakat dilakukan dengan pengembangan sumber daya manusia, yaitu memberikan bekal sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan kehidupannya, dengan memasukkan prinsip-prinsip kehidupan Islami. Sehingga mereka dapat melakukan pemenuhan kebutuhan, kepentingan dan kecenderungan hidupnya dengan bimbingan nilai-nilai ajaran Islam. 

Dakwah Kultural dan Pluralitas Budaya
Interaksi Muhammadiyah dengan pluralitas budaya, dan lebih khusus seni budaya dan komunitasnya telah melahirkan sejumlah ketegangan, baik yang bersifat kreatif maupun destruktif.
Ketegangan tersebut bersumber pada realitas historis-sosiologis, bahwa banyaknya kebudayaan dan seni budaya pada khususnya yang dikembangkan berasal dari ritual-ritual keagamaan sebelum kedatangan Islam. Sehingga banyak seni-budaya dan tradisi budaya lokal yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang bertentangan dengan aqidah, syari’ah  dan akhlak Islam. Di samping itu, juga bersumber dari kerigidan pemahaman agama, yang tidak memberi ruang kepada pluralitas budaya dan pemahaman keagamaan, dan pemahaman terhadap ajaran Islam yang terlalu tekstual dan literal, dengan tidak melakukan pemekaran makna, tidak menggunakan pendekatan rasional dan pendekatan integratif (tauhidi).
Dalam kaitan dengan dengan pluralitas budaya dan tradisi lokal, dakwah kultural, sebagaimana dikemukakan di muka, Muhammadiyah memberikan sikap ko-eksistensi dan pro-eksisten dalam rangka tabsyiriyah, tetapi pada saatnya Muhammadiyah melakukan islah dan tajdid, sehingga seni dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan aqidah, syari’ah dan akhlak Islam dapat dipertahankan dengan memberikan isi dengan pesan-pesan keislaman. Di samping itu melakukan kreasi baru dengan menawarkan kultur alternatif yang merupakan ekspresi dari pengahayatan ajaran Islam, serta meluruskan segala kultur, dan seni-budaya yang membawa nilai-nilai kemusyrikan, takhayul, bid’ah dan khurafat menuju al-tauhid al-khalis. Dengan demikian sikap ko-eksistensi dan pro-eksistensi merupakan konsekwensi pluralitas budaya dan sikap rasional Muhammadiyah, akan tetapi sikap ini merupakan bagian dari proses dalam tahapan dan marhalah dakwah. Sedangkan tujuan akhir dakwah cultural Muhammadiyah adalah tujuan dakwah Islam itu sendiri, yaitu tegaknya aqidah, syari’ah dan akhlak Islam secara kaffah, dan bersih dari syirk dan TBC. Wa fawqa kulli dzi 'ilmin 'Alim.


[1]QS. Ali Imran: 159
[2]Tim PP Muhammadiyah, Pedoman Umum Dakwah Kultural Muhammadiyah, 2002, p. 21, diperkaya dengan prasaran dari Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah.
[3]Ibid. diperkaya dengan prasaran dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.
[4]H.M. Djindar Tamimy, Pokok-pokok Pemahaman Islam dalam Muhammadiyah, tulisan lepas tidak diterbitkan, 1985; lihat pula A. Rosyad Sholeh et.al, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta: Persatuan, 1980
[5]ibid.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...